Press "Enter" to skip to content

Sejarah Kami

Timeline KGR
Pada tahun 2013, RD YPH. Jelantik mendapat surat tugas dari Bapa Uskup untuk bertugas “Babat Alas” di-Rumah sakit, yang dahulunya merupakan merupakan milik seorang dokter katolik yang sangat dermawan, yakni dr. Ignatius Supit, yang juga merupakan warga Paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya.Tahun 2012 dokter yang hampir berumur 90 Tahun saat itu, memutuskan untuk mempercayakan pengelolaan Rumah Sakit kepada Keuskupan Surabaya, mengingat sebentar lagi beliau akan pensiun sebagai seorang dokter. Keuskupan pun bersedia mengambil alih kepercayaan tersebut. Ketika Romo Jelantik tiba dirumah sakit pertama kalinya, ia bercerita kepada kami; “Miris melihatnya waktu pertama kali saya datang ke tempat ini. Uh, hampir seperti bangunan yang hampir ambruk!” Kata Romo yang di Tahbiskan 37 Tahun silam ini.Romo Jelantik pun mencari cara agar Rumah Sakit ini tetap berjalan dalam kondisi keterbatasan dana Rumah Sakit yang kebanyakan diperuntukkan benar-benar bagi mereka yang miskin dan tidak mampu dalam hal finansial. Waktu itu, tahun 2014, Stasi St. Agustinus (Kapel Hendrikus) milik Paroki Santa Maria Tak Bercela sedang berada dalam masalah sengketa perihal lahan parkir bagi umat, terutama bagi umat yang sering mengikuti Perayaan Ekaristi Pukul 10.00 Pagi. Antara umat yang mengikuti Misa saat itu dengan kapasitas lahan parkir Stasi yang terbatas, terjadi bentrok. Banyak umat yang saat itu melakukan parkir sembarangan didepan Rumah Warga Perumahan Wisma Mukti-Klampis, sehingga akhirnya menimbulkan protes warga kepada Paroki dan Paroki mengambil keputusan dengan berat hati untuk meniadakan Misa Pukul 10.00 ini.

Melihat hal ini, Romo Jelantik yang juga Mantan Pastor Kepala Paroki SMTB periode 2007-2012 memutuskan untuk membuka kembali Misa pukul 10.00 pagi ini, dimulai pada bulan Januari 2014. Dengan memanfaatkan gedung lama Rumah Sakit yang berlantai tiga ini. Romo percaya bahwa melalui Persembahan umat pada Perayaan Ekaristi, Rumah Sakit ini akan dapat tetap berdiri, menolong mereka yang berkekurangan dan tidak mampu.

Karena Rumah Sakit ini berada di Wilayah Pastoral Paroki SMTB, tepatnya Wilayah 9, maka Romo meminta bantuan ketua Wilayah 9 untuk bersama-sama menjalankan Misa setiap hari Minggu Pukul 10.00 pagi.

Saat ini, kurang lebih setiap minggunya, Perayaan Ekaristi di kapel ini dihadiri ± sekitar 750-900-an umat. Umat yang hadir pun tidak hanya dari wilayah Paroki SMTB, namun juga dari Paroki-paroki lain, yang kebanyakan dihadiri oleh keluarga-keluarga muda disekitar Rumah sakit Gotong Royong, MEER, Wonorejo, bahkan hingga Gunung Anyar Surabaya.